21 Desember 2011 , tepat satu tahun aku mengenal pria itu. Pria dengan wajah oriental, mata sipit, hidung sedikit pesek dan berkulit putih. Perkenalan kami sederhana, dan tak sengaja. Hanya lewat sebuah sms, walaupun sebenarnya kami satu kelas tahun 2010 yang lalu. Seharusnya tidak ada awal tahun baru yang buruk, tapi yang aku rasakan saat itu adalah kemonoton-an terbesar. Tapi dengan adanya kehadiran dia di dalam kehidupan aku saat itu, semuanya seakan berubah, indah.
Dia adalah pendengar yang baik, dia juga pencerita yang baik karena ceritanya selalu menyenangkan dan menyegarkan. Dia mengajari aku banyak hal. Yang sebelumnya aku tidak pernah tahu.
Dia sosok pria yang mungkin telah diciptakan Tuhan sebagai pemberi perhatian dengan kualitas terbaik untuk setiap wanita yang dikenalnya. Pria mandiri yang bisa mencuci baju dan piring, bersih-bersih rumah, serta memberi makan untuk adiknya sendiri. Tapi, ada beberapa hal yang aku benci dari dia. Dia sering menyembunyikan rasa sakit dan rasa lelahnya, dia sering lupa makan, dia sering mandi terlalu malam dan tidak pernah ingat makanan apa yang telah masuk ke mulutnya. Tapi, dengan segala ke-abnormalan yang dia punya, aku senang jika smsnya sedikit mampir di inbox handphone aku, tapi itu dulu.





