A LETTER TO A FRIEND

It’s always hurt to see you cry
To see tears falling like rain from the sky
And there’s no answer for why
I never question myself, I never try
It’s always hurt to know there’s nothing I can do
And fact that I don’t even know what to do
It’s so sad but so true
Feels like the color blue

With Love to You

With love to you… wherever you are.
My heart doth send to thee.
Rivers wide and mountains tall
Separate you from me.

Looking at pictures of you and I
Seems to bring you close.
But hearing our song being played
Brings you near the most.

2012 is Different Year



Hembusan angin pagi ini membangunkanku dari lamunan. Oh iya, ini sudah tahun baru. Seharusnya ada yang baru, bukan mengingat masa lalu lagi. Biarkan saja 2012 yang kelabu itu menjadi saksi perjalanan bisuku. Ntah berapa kata, kalimat hingga paragraf yang ku tulis di tahun itu. Masih dengan tema yang sama, mungkin hanya sedikit yang berbeda.
Dia. Awal tahun 2012 lalu aku  masih bersamanya. Menjalani hari-hari dengan suka duka. Mencoba terus mengerti dan memahami. Januari 2012, bulan yang cukup indah. Dimana di bulan ini orang yang spesial itu merayakan hari lahirnya. Aku hanya mencoba menjadi sesuatu yang indah untuknya saat itu. Aku datang membawakan dua buah kue coklat bentuk love dan di atasnya ada lilin “17” dan sebuah kado. Aku hanya ingin memberikan sesuatu yang indah di hari indahnya itu. Januari, ngkau telah memberikan aku kesempatan untuk membuat dia bahagia.

Ketika Kesunyian Ini Datang Lagi



Aku terbangun seperti biasa. Menatap handphone beberapa lama lalu melirik diam-diam ke arah jam. Menatap langit-langit kamar yang sama. Letak lemari, rak buku dan tas juga masih sama. Tak ada yang berbeda di sini. Aku masih bernapas, jantungku masih berdetak, dan denyut nadiku masih bekerja dengan normal. Memang, semua terlihat mengalir dan bergerak seperti biasa, tapi apakah yang terlihat oleh mata benar-benar sama dengan yang dirasakan oleh hati?

Pagi yang dingin membuatku terus terdiam mencari kehangatan dengan selimut yang masih kupakai. Dan, tetap saja tak kutemukan kehangatan, tetap mengigil sendirian. Dengan kenangan yang masih menempel dalam sudut-sudut luas otak, seakan membekukan hati. Aku berharap semua hanya mimpi, dan ada seseorang yang membangunkanku. Sungguh, aku ingin tersadar dari bayang-bayang yang terlalu sering kukejar. Sekali lagi, aku masih sendiri, bermain dengan masa lalu yang sebenarnya tak pernah ingin kuingat lagi.

Lagi... Tentang Aku dan Kamu "21"



Ini bukan yang pertama, duduk sendirian dan memerhatikan beberapa tulisan berlalu-lalang. Setiap abjad yang tersusun dalam kata terangkai menjadi kalimat, dan entah mengapa sosokmu selalu berada di sana. Ini bukan yang baru bagiku, duduk berjam-jam tanpa merasakan hangatnya perhatianmu melalui pesan singkat. Kekosangan dan kehampaan sudah berganti-ganti wajah sejak lama, namun aku tetap menunduk, mencoba tak memedulikan keadaan.

Tentu saja, kamu tak merasakan apa yang kurasakan, juga tak memiliki rindu yang tersimpan rapat-rapat. Aku sengaja menyembunyikan perasaan itu, agar kita tak lagi saling menganggu. Bukankah dengan berjauhan seperti ini, semua terasa jadi lebih berarti? Seakan-akan aku tak pernah peduli, seakan-akan aku tak mau tahu, seakan-akan aku tak miliki rasa perhatian. Bagiku, sudah cukup seperti ini, cukup aku dan kamu, tanpa kita.
↑
up